Perlindungan Hukum Pidana Terhadap Korban Tindak

Perlindungan  dan  penegakan  hukum  di  Indonesia  di  bidangkesehatan terlihat jelas masih sangat kurang.Satu demi satu terdapat beberapa  contoh  kasus  yang  terjadi  terhadap  seorang  pasien  yang tidak mendapatkan pelayanan semestinya, yang terburuk, dan kadang-kadang akan berakhir dengan kematian. Kasus tindak pidana di bidang medis  yang  banyak  terjadi  dan  diekspos  di  berbagai  media  hanya merupakan beberapa kasus yang menguap, sehingga dapat dikatakan seperti  gunung  es  (iceberg). 

credit pixabay.com

Menguapnya  kasus-kasus  tindak  pidana tersebut juga merupakan suatu pertanda kemajuan dalam masyarakat, atas   kesadarannya  akan   hak-haknya   yang   berkenaan   dengan kesehatan  danpelayanan  medis,  sekaligus  kesadaran  akan  hak-haknya untuk mendapatkan perlindungan hukumyang sama di bidang kesehatan. Berlakunya  Undang-undang  No.  23  Tahun  1992  tentang Kesehatan,  memberi  peluang  bagi  pengguna  jasa  atau  barang  untuk mengajukan  gugatan/tuntutan  hukum  terhadap  pelaku  usaha  apabila terjadi  konflik  antara  pelanggan  dengan  pelaku  usaha  yang  dianggap telah  melanggar  hak-haknya,  terlambat  melakukan  /  tidak  melakukan/ terlambat   melakukan  sesuatu   yang   menimbulkan   kerugian  bagi pengguna  jasa/barang,  baik  kerugian  harta  benda  atau  cedera  atau bisa  juga  kematian.  

Hal  Ini  memberikan  arti  bahwa  pasien  selaku konsumen   jasa  pelayanan  kesehatan   dapat   menuntut/menggugat rumah sakit, dokter atau tenaga kesehatan lainnya jika terjadi konflik. Pada  era  global  dewasa  ini,  tenaga  medis  merupakan  salah satu  profesi  yang  mendapatkan  sorotan  masyarakat,  karena  sifat pengabdiannya  kepada  masyarakat  sangat  kompleks.  Akhir-akhir  ini, masyarakat banyak yang menyoroti kinerja tenaga medis, baik sorotan yang  disampaikan  secara  langsung  ke  Ikatan  Dokter  Indonesia  (IDI) sebagai  induk  organisasi  para  dokter,  maupun  yang  disiarkan  melalui media  cetak  maupun  media  elektronik.  Kebanyakan  orang  kurang dapat  memahami  bahwa  sebenarnya  masihbanyak  faktor  lain  di  luar kekuasaan  tenaga  medis   yang   dapat  mempengaruhi   hasil  upaya medis,  seperti  misalnya  stadium  penyakit,  kondisi  fisik,  daya  tahan tubuh,  kualitas   obat   dan   juga   kepatuhan   pasien   untuk   mentaati nasehat  dokter.  

Faktor-faktor  tersebut dapat mengakibatkan  upaya medis  (yang  terbaik  sekali  pun)  menjadi  tidak  berarti  apa-apa.  Oleh sebab  itu  tidaklah  salah  jika  kemudian  dikatakan  bahwa  hasil  suatu upaya  medis  penuh  dengan  ketidakpastian  (uncertainty)  dan  tidak dapat diperhitungkan secara matematik.1Begitu  pula  halnya  dengan  proses  diagnosis  (mencari  dan mendefinisikan    gangguan    kesehatan),    yang    pada    hakikatnya merupakan  bagian  dari  pekerjaan  tenaga  medis  yang  paling  sulit. 1S.  Sutrisno,   Tanggungjawab   Dokter   di   bidang   Hukum   Perdata.   Segi-segi  Hukum Pembuktian, Makalah dalam Seminar Malpraktek Kedokteran, Semarang 29 Juni 1991, hal 22.   

3Meskipun    sudah    banyak    alat    canggih    yang    diciptakan  untuk mempermudahpekerjaan   ini,   tetapi   tidak   menutup  kemungkinan terjadinya  tingkat  kesalahan  (perbedaan  klinik  dan  diagnosis  otopsi klinik)  di  berbagai  rumah  sakit  di  negara-negara  maju.  Sama  halnya dengan  tindakan  terapi,  hasil  diagnosis  yang  salah  juga  tidak  secara otomatis  menimbulkan  adanya   tindak   pidana.   

Harus   dilakukan penelitian   terlebih  dahulu   apakah   tindakan  malpraktek  tersebut merupakan akibat tidak dilaksanakannya standar prosedur diagnosis. Penilaian  pasien   terhadap   rumah  sakit/tenaga   medis   yang dikeluhkan tersebut di atas, sudah barang tentu tidak seluruhnya benar dan  bersifat  subyektif.  Namun  keluhan  tersebut  secara  faktual  tidak dapat  diabaikan  begitu  saja  agar  tidak  menimbulkan  konflik  hukum yangberkepanjangan    dan    melelahkan.    Tindakan    malpraktek menimbulkan kerugian baik materiil maupun immateriil di pihak pasien atau  keluarga  pasien  sebagai  korban.  

Kasus  malpraktek  yang  ada seringkali  berujung  kepada  penderitaan  pasien.  Oleh  karena  itulah kiranya perlu dikaji bagaimana upaya untuk memberikan ...Read More...