Gerhana Matahari Total (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional)


Gerhana Matahari adalah peristiwa ketika terhalanginya cahaya Matahari oleh Bulan sehingga tidak semuanya sampai ke Bumi. Peristiwa yang merupakan salah satu akibat dinamisnya pergerakan posisi Matahari, Bumi, dan Bulan ini hanya terjadi pada saat fase bulan baru dan dapat diprediksi sebelumnya.

Astronomi seperti halnya ilmu pengetahuan alam lainnya yang serumpun yakni Fisika, Kimia dan Biologi (sedang Matematika adalah ‘Queen of Science’) memiliki satu karakter yang unik yakni predictive power. Melalui metodologi sains yang mendasari pengamatan astronomis, astronom menjelaskan secara ilmiah serta memprediksi dengan intuisi dan logika, fenomena alam yang akan terjadi berdasarkan telaah seksama terhadap periodisitasnya.

Metode ini mengandalkan kedisiplinan pengumpulan dan rasionalitas yang tinggi terhadap data dan menjadi landasan empirisme dalam dunia deduksi-induksi dalam sains. Kemampuan prediksi ini dibuktikan dengan begitu cermatnya penentuan waktu gerhana matahari total hingga jangkauan sepersepuluh detik.

Akan tetapi dalam sejarahnya, Astronomi sebagai sains tertua didekati melalui berbagai jalur. Manusia sebagai mahluk berakal memiliki khazanah yang luas dalam menafsirkan berbagai fenomena alam. Oleh karena itulah peradaban manusia menyaksikan berbagai asimilasi antara aspek kultural dengan ilmiah dalam mempelajari fenomena alam yang astronomis.

Berbagai mitos sekitar peristiwa alam seperti kemunculan komet dan gerhana matahari maupun gerhana bulan pun muncul sebagai akibat perkembangan kebudayaan manusia. Pendekatan ini berlangsung secara rasional dalam tataran teknik pengukuran dan berakhir pada tafsir pseudo-sains, sesuatu yang sejatinya berbeda dengan nilai sains itu sendiri.

Namun, umat manusia cenderung menerima pemikiran mitikal ini, dan mewariskannya pada generasi-generasi berikut. Permasalahannya, pandangan ini akan menjadi bias yang merugikan masyarakat itu sendiri saat telah terlembagakan.

Salah satu contoh yang paling mendekati topik ini adalah saat kehadiran peristiwa gerhana matahari total 11 Juni 1983 di Indonesia. Fenomena gerhana ini disambut dengan bersembunyinya sebagian besar penduduk Indonesia di rumah-rumah. Suasana di pedesaan dilaporkan sepi mencekam karena patroli tentara dan polisi mencegah penduduk keluar rumah.

Banyak penduduk yang menutup ventilasi di rumahnya dengan menggunakan tikar. Ini bertujuan agar ibu hamil tidak terpapar cahaya matahari dan melahirkan bayi-bayi yang “belang”.